Aku masih mencoba-coba untuk mengerti kekhawatiran yang selalu bunda tampakkan dalam kalimat-kalimatnya beberapa bulan terakhir ini.
“Nduk, kamu yakin?” begitu katanya suatu malam, saat aku sedang berbenah diri untuk persiapan pernikahan adikku besok pagi. Aku hanya tersenyum sambil terus membenahi dandananku. Aku memang tidak pandai berdandan, makanya aku perlu berlatih dulu malam ini agar besok terlihat lebih “segar” dihadapan para undangan.
“Nduk!”
“Bunda, kenapa bunda masih saja menanyakan hal itu. Antik benar-benar tidak keberatan bunda.” aku yakinkan bunda sekali lagi sambil sesekali bercermin membenahi polesan bibirku yang terlihat begitu tebal dengan gincu warna merah terang ini.
Aku sadar bunda sangat mengkhawatirkan aku, apalagi ini perhelatan pernikahan yang ke tiga kalinya dalam keluargaku. Yah, aku adalah sulung dari lima bersaudara dan tiga dari keempat adikku sudah menikah, yang kesemuanya perempuan. Tinggal Andi, adikku yang paling bungsu yang saat ini masih melanjutkan studynya si sebuah sekolah menengah atas di ibukota. Dua bulan yang lalu tanpa sengaja aku melihat bunda sedang menangis di kamar. Disamping beliau terlihat Anita sedang duduk sambil memeluk bunda, aku penasaran, akupun menerobos masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.
“Ada apa nih?” tanyaku tiba-tiba
Sontak mereka kaget dan segera menghapus air mata yang mengalir di sela-sela wajah muram mereka.
“Eh, mbak Antik. Nggak ada apa-apa kok mbak.” jawab Anita gugup
“Bunda, ada apa?”
“Duduk sini Tik.” pinta bunda sambil mengulurkan tangannya menyambutku.
Banyak wejangan yang bunda sampaikan padaku juga adikku, Anita, malam itu. Bunda bilang bahwa Anita meminta izin untuk menikah dengan Aryo, teman kerja Anita sekaligus pacarnya selama lima tahun terkahir ini. Tapi Anita merasa bahwa dia sangat berat untuk menjalankannya karena harus melangkahi aku, sebagai kakaknya, begitupun dengan bunda. Bunda juga merasa keberatan kalau aku harus dilangkahi adik-adikku terlebih dahulu. ini adalah kali ke tiga aku terlewati begitu saja oleh pernikahan ketiga adik perempuanku. Tapi adalah hal yang tidak mungkin kalau Anita harus menangguhkan pernikahannya hanya karena aku belum menikah, itu tidak adil namanya. Iya kalau aku bisa cepat menemukan pasangan hidupku, kalau nggak? kan bisa-bisa Aryo keburu kabur dari Anita. Kalau sudah begitu siapa yang akan disalahkan, pasti aku kan?!
Dalam adat jawa, sedikit banyak masih ada yang mempunyai pandangan bahwa anak perempuan tidak boleh dilangkahi atau didahului oleh adik-adiknya dalam hal pernikahan, pamali katanya. Entah apa makna pamali yang mereka sebutkan, kadang mereka tidak mau menjabarkannya secara gamblang yang bisa membuat kita, sebagai “terdakwa”, bisa menerima alasan-alasan yang dikatakannya sebagai istilah PAMALI tersebut. Dan aku sebagai keturunan suku jawa, mau tidak mau dihadapkan pada kenyataan itu. Tapi aku pikir masa bodolah, bukankah sekarang jamannya sudah berbeda !! lagipula hal tersebut tidak pernah disahkan dalam bentuk undang-undang kok!!
“Selamat ya Nit.” kalimat yang sama selalu dilontarkan oleh setiap para undangan yang hadir malam itu kepada kedua mempelai. Giliran orang-orang yang mengenaliku memberikan ucapan selamat, mereka selalu mengatakan,
“Kapan nyusul Tik, masa kalah sama adikmu.”, atau kalau nggak “Kamu kapan Tik, jangan lama-lama loh ntar keburu tua dan kehabisan stok.” sebel gak sih mendapatkan puluhan kalimat yang sama dan dalam waktu yang sama pula, apalagi kalimat yang terakhir, sungguh rasanya jantungku serta merta ditohok dengan kerasnya. Andai saja mereka tidak punya hobi nyeletuk, pasti aku akan sangat bersyukur sekali karena aku tidak akan kehilangan pahala hanya karena aku memberikan jawaban dengan senyuman yang tidak ikhlas.
Satu persatu tamu undangan meninggalkan gedung. Dalam hati aku berharap girang semoga saja tidak ada lagi kalimat-kalimat norak seperti tadi yang menghampiriku. Tapi apa yang aku harapkan rupanya belum bisa tercapai, karena keluarga besar bude Sadli malam itu datang paling akhir diantara para undangan. Dengan girangnya bude langsung menyeruduk pipi bunda dan Anita, memberi pujian bertubi-tubi. Aku hanya tersenyum kecut melihat pemandangan malam itu.
“Antik, kapan bude bisa melihatmu bersanding dengan pangeran seperti adikmu ini?” begitu kalimat bude Sadli memburuku.
“Tenang aja bude. Kalau sudah saatnya pasti Antik akan menjadi ratu semalam seperti Anita.” jawabku mencoba tegar, padahal dalam hati rasanya gondok sekali. Tersirat dari raut wajah dan kalimat bude, sepertinya dia mengejek kesendirianku selama ini. Pasti dalam hatinya, bude berkata “Heh dasar perawan tua!” huh sebel sebel, apa aku harus menyalahkan Tuhan atas kesendirianku selama ini, tidak mungkin kan?
“Tik. Kamu kenapa nduk?” teguran bunda menyadarkan aku dari lamunan sesaat tadi.
“Bunda, bikin Antik kaget aja.”
“Bunda perhatikan kamu melamun dari tadi. Ada masalah?” tanya bunda lagi
“Ah nggak kok bunda.” jawabku sambil melangkah keluar gedung sendirian, sementara bunda menghampiri tamu yang malam itu masih terlihat beberapa orang.
*
“Apakah aku sudah terlihat sedemikian tua?” bisikku dalam hati sambil mengamati, memalingkan wajahku ke kanan dan ke kiri di depan cermin beberapa saat.
“Ah tidak juga. Aku masih terlihat seperti gadis berusia dua puluh tahunan kok.” gumamku sendiri sambil senyam senyum sendirian. Aku sendiri tidak merasa terbebani dengan kesendirianku selama ini dan terus beranjaknya tangga ketuaan usiaku. Menjadi tua itu pasti tapi untuk tetap tampil menarik dan prima itu kan pilihan meskipun usia terus merambat menjadi tua. Tentu aku akan memilih untuk tetap tampil prima dan kalau bisa tetap tampil menarik meskipun usiaku semakin beranjak tua, dan aku tidak cukup khawatir dihadapkan pada hal itu. Lain dengan rekan rekanku, mereka sepertinya takut untuk menjadi tua apalagi belum sempat menikah atau lebih tepatnya mereka takut akan menyadang predikat PERAWAN TUA.
“Memang seberapa mengerikannya sih menjadi PERAWAN TUA?” tanyaku pada diri sendiri. Tapi selama ini aku tidak merasa tua. Aku masih bisa ngeceng di mall-mall sepulang kerja atau sekedar mampir nongkrong di kafe bersama teman-teman yang lain, yang notabene usia mereka rata-rata 5 atau 6 tahun dibawahku. Aku enjoy aja tuh.
Aku menjatuhkan tubuh diatas ranjang, mencoba untuk memberi rasa nyaman pada tubuhku yang penat karena bekerja seharian tadi. Terlintas sejenak candaan rekan-rekan kerjaku dikantor tadi siang.
“Tik., kapan kamu nikah?” tiba-tiba kalimat yang satu itu muncul lagi ke permukaan setelah sekian lama menghilang dari peredaran.
“Hhhmmm, kapan ya?? Ya….. nggak tahu. Emang kenapa?” tanyaku balik
“Ya, nggak papa sih. Tapi apa kamu nggak kuatir dengan semakin bertambahnya usia kita?”
“Nggak tuh !” jawabku ketus sambil melengos pergi meninggalkan rumpian garing dikantin siang itu
Aku justru merasa heran melihat orang-orang yang berlomba-lomba ingin segera melepas masa lajang mereka demi alasan apapun, apakah itu karena usia, desakan orang tua yang mulai merasa malu karena anak gadisnya nggak laku-laku ataupun alasan yang klasik sekalipun, takut di cap sebagai perawan tua!! Apakah hanya karena ketakutan-ketakutan semacam itu yang membuat mereka, para perempuan terutama, menutup mata terhadap setiap perbedaan yang muncul yang justru sebenarnya sangat penting untuk dipertimbangkan sebelum mereka melangkah lebih jauh pada sebuah PERNIKAHAN.
“Eh Tik, besok bareng ya ke pernikahannya Dewi.” ajak Lintang sepulang dari kantor
“Beres, ntar kamu samperin aku ya.” pintaku
Setiap kali ada undangan penikahan datang, setiap kali itu pula aku harus menyiapkan dada yang cukup lapang untuk menampung rentetan pertanyaan yang akan menghujamiku. Sebenarnya tidak menjadi masalah buatku, aku sudah ratusan kali menghadapai pertanyaan-pertanyaan seperti itu, tapi bagaimana dengan Lintang. Apa dia bisa bersabar hati seperti halnya aku? Dia orang baru dikantor, dan usianya juga hampir sama denganku, 32 tahun !! aku lebih tua dua tahun darinya, jadi aku punya pengalaman lebih selama dua tahun dalam menghadapi serbuan pertanyaan tentang, KAPAN MENIKAH!!! Aku jadi tertawa geli kalau memikirkan hal itu.
Tak disangka di pesta pernikahan Dewi dan Ryan, aku bertemu dengan kawan-kawan lamaku, mereka membawa pasangannya masing-masing, aku sendiri belum tahu mereka sudah menikah atau belum, tapi ada juga yang sudah terlihat menggandeng anak-anak mereka, satu……, dua…. bahkan ada yang sudah mempunyai tiga orang anak!! Senang melihat mereka bahagia dengan keluarganya.
“Hei Antik. Lama tidak ketemu!” sapa Togar, teman semasa kuliahku dulu, dengan logat Bataknya yang masih kental
“Kenalkan ini istri dan anak-anakku.”
“Wow, kenapa kau tak mengundangku Gar?” candaku, lagian mana mungkin aku akan jauh-jauh ke Medan hanya untuk menghadiri pernikahan Togar.
“Suamimu mana?” tanya Togar semangat tanpa menghiraukan raut mukaku yang berubah begitu dia mengucapkan kata SUAMI.
“Uuffffffhhhhhhhhh.” aku menarik nafas panjang sejenak. Bagaimana bisa aku membawa suami, kalau menikahpun belum pernah aku jalani, bathinku geli.
“Ah kau Gar, seperti tak tahu aku saja.” jawabku sekenanya
“Hah. Jadi kamu masih sendiri dari dulu?” ekspresinya menyiratkan ketidakpercayaan
“Sudahlah. Janganlah kau memilih-milih.” ledeknya
“Loh. Memilih itu kan penting Gar. Coba kamu pikir, pada saat aku memutuskan untuk menikah dengan lawan jenis dan bukan dengan sesama jenis, itu kan sudah merupakan sebuah pilihan.”
“Hah, ngeri kali kau menikah dengan sesama jenis.”
“Eh denger dulu, bukan itu maksudku. Coba kamu analisis lagi. Pada saat aku memutuskan untuk menikah dengan si A dan bukannya dengan si B, itu kan juga berarti aku sudah melakukan sebuah pemilihan. Satu lagi, dan pada saat aku memutuskan untuk menikah dengan lelaki yang seiman dan bukannya yang berbeda keyakinan, itukan berarti juga bahwa aku sudah melakukan satu lagi sebuah proses PEMILIHAN. Jadi siapa bilang memilih itu tidak penting, ya nggak?”
“Hmmm, betul juga ya.” jawabnya sambil manggut-manggut
“Jadi kapan kamu akan memutuskan memilih untuk menikah?” desaknya lagi
“Ya, aku tak tahu. Bisa besok, lusa, minggu depan, tahun depan atau abad depan. Aku tidak tahu!” jawabku sambil mengangkat bahu, disambut tawa rekan-rekanku yang lain.
Tiba-tiba temanku yang lain menghampiri, ikut nimbrung pembicaraanku dengan Togar.
“Kamu sih yang dikejar karir terus.” celetuk Ayu, temen lamaku yang lain
“Ah nggak juga. Yang aku kejar bukan karirnya kok tapi hasil dari karir itu sendiri alias gaji, hahahaha…..” tawa kamipun terpecah kembali
“Tapi duit banyak buat apa Tik kalau kita hidup sendiri dan kesepian?” sahut Ayu
“Dan lagipula kalau usia kita semakin tua, kesempatan akan semakin berkurang, bener nggak yu?” tambah Togar disambut dengan anggukan Ayu
“Eit jangan bilang kalau kamu nggak perlu duit banyak, muna itu namanya.” sergahku sambil menggoyangkan telunjuk jari
“Bukankah untuk menikah itu dibutuhkan modal dan modal itu harus kita kumpulkan sedikit demi sedikit bukannya jatuh dari langit begitu saja.” lanjutku
“Bentar, ada satu lagi. Aku tahu mungkin banyak yang nggak setuju dengan pendapatku, tapi aku nggak mau menikah hanya karena masalah usia. Lagipula siapa sih yang berhak memberi patokan usia seseorang harus menikah? dan siapa juga yang bisa dan berani menjamin bahwa menikah di bawah usia 30 tahun akan lebih bahagia dibandingkan dengan mereka yang menikah diatas usia 30 tahun ? nggak ada kan?” aku mulai sewot
“Oke….. oke…. Aku mengaku kalah deh kalau sudah beradu argumen sama kamu Tik, tak pernah menanglah aku.”
Percakapan yang hampir saja memanas cepat-cepat kami akhiri, kami bersantap kudapan yang malam itu disajikan oleh tuan rumah. Aku menghampiri Lintang yang sedari tadi aku perhatikan lebih banyak diam.
“Kamu kenapa diam saja Lin?” tanyaku membuka pembicaraan
“Gue salut sama kamu Tik. Kamu bisa berargumen bebas seperti tadi tentang sebuah pernikahan.”
“Memangnya ada yang aneh dengan jawaban-jawabanku tadi?”
“Nggak sih, tapi kamu bisa menghadapinya dengan begitu tegar. Tidak seperti aku.”
“Eh Lin, masa bodo amat dengan perkataan mereka. Lagian kenapa sih kalau kita memilih untuk tetap sendiri sampai sekarang? Memangnya kita bakalan membuat lapisan ozon di bumi ini semakin cepat menipis dengan kesendirian kita, nggak kan?? Kita kan bukan kerabat polusi Lin.” “Ha..ha….ha…, kamu ini bisa aja Tik.”

——— to be continued …

*lom dapat ide hihihih kramotak nih…*