Gila!! Bagaimana tidak, aku adalah perempuan yang telah bersuami tapi jauh dilubuk hati, aku mencintai lelaki lain. Sebenarnya lelaki ini sudah tidak asing lagi buatku, dia adalah lelaki yang pernah mengisi jeda-jeda kosong di masa laluku. Mungkin wajar saja kalau kita masih mempunyai perasaan sayang bahkan mungkin cinta pada seseorang yang pernah menjadi sosok istimewa di hati kita, tapi semuanya menjadi tidak wajar ketika perasaan itu bersemi lagi dan membuahkan sebuah permasalahan baru dalam hidup, terutama kehidupan rumah tanggaku.
“Wuri, apa kamu sadar dengan yang kamu lakukan saat ini.” begitu sahabatku Intan selalu mengingatkan aku akan keadaan yang saat ini sedang aku lakoni.
“Gue sadar betul In, tapi gue nggak mampu menghindarinya.”
“Tapi Wur, kamu sudah bersuami dan aku pikir Bimo adalah seorang suami yang cukup baik buat kamu. Apalagi yang kamu cari?”
“Gue tahu, dan gue sadar akan hal itu In. Bimo memang seorang suami yang baik, dia sayang sama gue, dia juga care banget sama gue. Gue sendiri nggak tahu apa yang salah sama diri gue In!”
“Yang salah adalah kamu mencintai lelaki lain sementara kamu adalah perempuan yang telah bersuami dan itu sebuah kesalahan besar, that’s all!” gertak Intan sambil meninggalkanku dengan sejumlah pertanyaan yang masih memenuhi rongga otakku.
“Kenapa Intan menjadi sangat peduli sekali dengan rumahtanggaku.” pikirku.
*
Angin malam menyelusup melalui kisi-kisi jendela kamarku mengusap telinga, merayap menyusup sampai ke tulang rusuk. Kutarik baju hangatku hingga menyentuh telinga. Dari bidang jendela yang gordennya kusibak sebagian, terlihat kerlap kerlip cahaya lampu di kejauhan, memendarkan ingatanku pada sebuah pesta rakyat di salah satu sudut sebuah desa tempat dimana suku Tengger bermukim, yang entah berapa tahun yang lalu. Kembali teringat kenangan dimana aku pertama kali bertemu dengan lelaki yang saat ini menjadi orang ketiga dalam kehidupan rumahtanggaku, lelaki yang sampai kapanpun akan selalu hidup dihatiku. Kala itu aku terjatuh dan terhimpit diantara rombongan orang-orang yang ingin menyaksikan upacara Yadnya Kasada yang diadakan oleh masyarakat suku Tengger. Sebuah upacara adat yang dilaksanakan pada bulan kesepuluh penanggalan Tengger atau setiap akhir September.
Sesosok lelaki yang tidak aku kenal membantuku menghindari gerombolan orang-orang yang saat itu larut dalam pesta rakyat. Karena tak ada lagi tenaga yang tersisa aku mengurungkan niatku untuk ikut hanyut bersama gerombolan orang-orang itu. Dingin yang semakin mengigit tak dihiraukan lelaki itu, yang terakhir aku ketahui bernama Damar, untuk menghangatkan tubuhku dengan jaket tebalnya. Dia memapahku kembali ke penginapan, tak banyak kata selama dalam perjalanan kecuali aliran energi yang aneh yang aku rasakan ketika dia merapatkan salah satu tangannya pada pinggangku, berusaha menyeimbangkan langkahku yang sedikit gontai. Senyumnya masih membekas dalam ingatanku hingga detik ini, ketika dia menapakkan kakinya melangkah pergi meninggalkanku di penginapan, aku tak sempat mengucapkan terimakasih.
Keesokan harinya aku mencoba mencari sosok lelaki yang kemarin menolongku, tapi hingga fajar menyingsing tak ku dapati sosok itu. Ketika aku akan melangkah pergi meninggalkan hamparan lautan pasir di kaki bukit, tiba-tiba aku dikagetkan sebuah tepukan lembut dipundakku, aku menoleh dan kudapati laki-laki itu sudah berdiri tegap dihadapanku.
“Kamu!” teriakku lirih sambil mengerenyitkan dahi
“Maaf mengangetkanmu. Dari tadi aku perhatikan sepertinya kamu sedang bingung mencari seseorang, ada yang bisa aku bantu?”
Kalau saja kamu tahu bahwa orang yang aku cari itu adalah kamu, kamu pasti terkejut atau malah sebenarnya kamu tahu bahwa orang yang aku cari-cari sedari tadi itu adalah kamu ? Oh Tuhan, tengsin bener gue.
“Hi, kok malah diem?”
Ooops, rupanya aku baru saja melamun, “Eh, nggak kok.” elakku
“Aku cuma mau ngucapin terima kasih atas pertolongan kamu kemarin, dan aku bermaksud untuk ngembaliin ini.” sambungku sambil menyerahkan jaket biru tebal milik lelaki itu.
“Kamu pake aja, aku perhatikan kamu tidak mempersiapkan baju yang cukup tebal untuk menghangatkan tubuhmu dari terpaan angin yang cukup hebat di Bromo ini.” jawabnya dengan menyunggingkan senyum yang menggetarkan seluruh persendianku. Aku hanya diam terpaku ketika dia melangkah pergi meninggalkan aku tanpa kata-kata. Dan untuk kesekian kalinya aku hanya bisa menatap bekas langkahnya tersapu oleh sang bayu hingga yang kulihat hanya sebuah titik hitam dan akhirnya menghilang dibalik kerumunan orang-orang yang ada di sekitar kaki bukit itu.
“Siapa namanya?!” aku tersentak sadar mendapati bahwa ternyata dalam pertemuan keduapun aku belum mengetahui nama laki-laki itu. Dengan lesu kutinggalkan tanah berpasir itu menuju ke rombongan yang akan membawa kami kembali ke Bandung. Langkahku terhenti ketika seorang anak laki-laki penunggang kuda berteriak memanggil namaku.
“Mbak Wuri!” teriak anak itu
Aku terbengong didepan pintu bus yang akan aku naiki. Namun tepukan pak Gondo menyadarkanku.
“Mbak Wuri, itu ada yang manggil.” begitu kata pak Gondo
Sekelebat kemudian aku sadar dan perlahan menghampiri anak itu. Aku merasa tidak mengenali bocah itu, “siapa gerangan” bisikku dalam hati
“Kamu siapa dan ada perlu apa sama saya?” begitu aku bertanya pada anak itu, yang terlihat sedang mengatur nafasnya yang terengah-engah, mungkin karena melaju dengan kudanya terlalu kencang.
“Ada titipan dari mas Damar, ini.” gumam anak itu sambil menyodorkan sebuah bungkusan kecil yang entah apa isinya.
“Damar?!” gumamku sambil memperhatikan bungkusan kecil itu
Belum sempat aku bertanya lebih lanjut mengenai sosok bernama Damar padanya, aku sudah tidak mendapati bocah itu dihadapanku. Baru aku sadari bocah itu telah berlari jauh dengan kudanya meninggalkan aku dalam kebingungan.
Aku masih belum mengerti dari mana dia tahu namaku. Dua tahun berlalu dan ternyata aku belum mengetahui siapa sosok Damar yang sebenarnya dan dimana keberadaannya kali ini. Dalam suratnya yang dia titipkan pada anak kecil sewaktu di Bromo, dua tahun yang lalu itu, dia mengatakan bahwa dia akan menemuiku disuatu tempat di Bandung tepatnya di sebuah kafe bernuansa alam di daerah Bandung Utara.
Hari ini, tepat dua tahun setelah aku menerima surat dari seseorang bernama Damar. Aku dihinggapi perasaan gelisah yang amat sangat untuk memutuskan menemui dia atau mengurungkannya. Jarum jam terus melaju dengan cepat tanpa menghiraukan kegelisahanku.
“Aku harus menemuinya kalau aku ingin mengetahui siapa dia yang sebenarnya.” gumamku dalam hati
Akhirnya aku memutuskan untuk menemuinya. Aku bergegas berangkat dengan taksi menuju The Peak, sebuah kafé di bilangan Bandung Utara yang bernuasakan alam. Dia menjanjikan akan menemuiku jam 7 malam tepat, aku masih punya waktu satu jam lagi. Karena jarak tempat tinggalku cukup jauh, aku meminta sopir taksi untuk mempercepat laju kendaraannya agar aku tidak telat sampai di tempat. Sesampai di kafe aku disambut oleh seorang resepsionis, dia mengantarkan aku ke sebuah meja yang sudah tertata rapi berikut daftar menu diatasnya.
“Silahkan mbak, mohon tunggu sebentar.” sapa perempuan itu ramah
“Terimakasih.” jawabku sambil melihat-lihat daftar menu yang disodorkan perempuan tadi
Sepuluh menit aku menunggu tak ada tanda-tanda orang menuju mejaku, aku kembali gelisah dan keringat dingin mulai mengalir disela-sela tubuhku. Padahal udara malam itu cukup dingin untuk ukuran orang normal, tapi entah kenapa aku menjadi berkeringat seperti diterpa terik panas disiang hari. Dalam keadaan gelisah malam itu, tiba-tiba sebuah sapu tangan disodorkan kepadaku, aku menoleh dan ternyata orang itu adalah Damar, sosok yang membuatku gelisah.
“Maaf membuat kamu lama menunggu.” katanya membuka pembicaraan memecah kebisuan malam
“Oh, it’s OK!” jawabku sedikit gugup
“Damarrendra.” dia menjulurkan tangannya padaku
“Wuri.“ jawabku menyambut jabatan tangan dia
“Yah, aku sudah tahu.” sahutnya pasti sambil tersenyum
“Ohh!!” jawabku pendek dengan sedikit senyum kecut
“Sombong sekali lelaki ini” pikirku
Obrolan menjadi santai karena ternyata dia seorang lelaki yang mempunyai selera humor yang cukup baik. Aku yang tadinya terlihat tegang dan gelisah akhirnya larut dalam candaan-candaan dia yang menyenangkan.
Bulan-bulan berikutnya kami sepakat untuk menjalani hari-hari bersama dalam ikatan bathin yang lebih dalam. Namun, waktu terlewati dengan begitu cepat, kebersamaan kami harus berakhir untuk sementara waktu, ketika dia memutuskan untuk meneruskan studynya di New Zealand untuk beberapa tahun mendatang. Sedih tapi aku tidak bisa menghalangi keinginan dia untuk maju.
Dua tahun pertama komunikasi kami masih berjalan dengan lancar dan memasuki tahun ke tiga gelagat buruk dalam hubungan kami mulai terlihat. Damar menjadi jarang sekali menghubungi aku, sementara aku tidak bisa mendapatkan informasi apapun lagi mengenai keberadaan dia.
***
“Jeng Wuri, aku berangkat dulu ya.” pamit suamiku disuatu pagi yang cerah
“Iya, hati-hati.” jawabku sambil mencium tangannya
Ketidakpastian mengenai keberadaan Damar selama hampir tiga tahun terakhir membuatku harus memutuskan menerima Bimo, suamiku saat ini. Bimo, seorang lelaki yang bisa dibilang sebagai idaman wanita kebanyakan karena dia memiliki perawakan yang atletis, ganteng, baik, pengusaha sukses dan dari keluarga yang cukup terpandang, terlihat sempurna bukan? Seharusnya aku adalah perempuan yang sangat beruntung bisa memilikinya, tapi saat aku menerima dia sebagai tunanganku dulu aku sama sekali tidak mengetahui perihal latar belakang Bimo karena aku diperkenalkan dengan lelaki itu oleh budeku saat aku mengunjungi salah satu kerabat di Semarang yang entah berapa waktu yang lalu. Apakah ini sebuah perjodahan, aku tidak tahu. Karena aku yakin orangtuaku tidak bermaksud demikian karena sejak awal mereka tahu bahwa aku hanya mencintai Damar. Tanpa disangka perkenalanku dengan Bimo yang cukup singkat itu berlanjut hingga ke pelaminan. Hingga detik ini aku tidak mempunyai perasaan apapun dengan Bimo, entah dengan Bimo sendiri. Dalam keadaan yang bingung karena ketidakpastian hubunganku dengan Damar dan suasana hati yang galau akhirnya aku memutuskan menerima niat baik Bimo untuk memperistriku. Saat itu aku berpikir bahwa aku sudah tidak mungkin lagi mengharapkan kehadiran Damar dalam hidupku dan kemudian hadir seseorang yang baru dalam kehidupanku dengan membawa niat baik, tidak ada alasan yang tepat lagi buatku kalau harus menolaknya, mengingat usiaku juga sudah tidak lagi muda pada masa itu.
Jadilah aku nyonya Bimo mulai detik ini, aku mencoba menghilangkan sosok Damar dalam hati maupun kehidupanku. Aku merasa bahwa cinta Bimo jauh lebih besar ketimbang Damar, dia sangat memperhatikan aku sampai ke hal-hal yang sekecil apapun. Aku mencoba mencari makna dibalik semua kebaikan Bimo padaku dan aku belajar untuk membalas semuanya itu dengan cara mencintainya setulus hati, karena kalau harus diukur dengan materi pasti aku tidak bisa membayar semua kebaikan Bimo padaku.
****
Aku berjalan menyusuri kota. Panasnya terik tak aku hiraukan, yang aku rasakan siang itu hanya sebuah penyesalan.
“Jangan kamu mulai lagi.” kataku pada Damar
“Aku tidak pernah mengakhiri semuanya, jadi aku tidak berniat memulainya dari awal lagi.”
“Aku anggap kamu sudah mengakhirinya setelah hampir tiga tahun kamu menghilang tanpa sedikitpun khabar yang aku terima.”
“Tapi aku pikir kamu tahu bahwa aku akan kembali setelah itu, seperti janjiku dulu waktu di Bromo.”
“Siapa yang bisa menyangka hal demikian Mar, kamu tidak pernah mengatakannya padaku. Sudahlah, saat ini sudah ada orang lain dalam kehidupanku.”
“Tapi aku masih mencintai kamu.”
“Jangan bicara tentang cinta lagi padaku, cintaku sudah mati bersamaan dengan lenyapnya kamu dari kehidupanku dulu.”
“Tidak mungkin. Aku yakin kamu masih mencintaiku Wur, kita masih bisa berhubungan, aku rela jadi orang kedua dalam kehidupanmu.”
“Gila kamu Mar.”
“Terserah kamu mau bilang apa.”
Aku semakin bingung menghadapi kenyataan ini. Damar adalah orang yang pernah begitu dekat dihatiku, dulu aku berpikir tidak ada seorangpun yang bisa menggantikannya di hatiku. Kenyataan berkata lain ketika kami harus menjalin hubungan jarak jauh, lambat laun aku benar-benar kehilangan dia dan kemudian hadir lelaki lain dalam kehidupanku, meskipun aku tidak mencintainya sebagaimana aku mencintai Damar tapi kehadiran Bimo, suamiku, menyadarkan aku bahwa cinta sejati itu ada walau aku tidak pernah bisa mendekap cintanya hingga akhir hayat menghampiri.
****
“Maaf nyonya, kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menangani suami anda dan kami terpaksa menyerah atas semua hal yang dikehendaki oleh Tuhan.” begitu kata dokter ketika mendadak memanggilku seusai operasi
Aku tahu bahwa Bimo tidak akan bisa bertahan lebih lama. Penderitaannya selama bertahun-tahun akhirnya merenggutnya dariku. Satu tahun yang lalu Bimo di vonis mengidap kanker kelejar prostat, mungkin itu juga yang menyebabkan kami tidak mempunyai keturunan setelah 4 tahun perkawinan kami. Aku baru mengetahuinya ketika mendadak dia sangat kesakitan disuatu malam dan aku segeranya membawa ke Rumah Sakit. Setelah dirawat selama beberapa hari aku mengetahui kenyataan yang sangat pahit karena Bimo di vonis mengidap kanker oleh dokter. Dalam satu tahun terakhir ini memang aku perhatikan kesehatan Bimo mulai menurun, tapi setiap kali aku menanyakan keadaannya selalu dia jawab seolah-olah tidak terjadi apapun pada kesehatannya. Aku mengaku salah karena kurang memperhatikan dia selama ini, aku terlalu sibuk dengan kembalinya Damar dalam kehidupanku sehingga aku tidak menyadari kalau ternyata suamiku sedang menderita, tapi sungguh semua yang aku lakukan tidak ada kaitannya dengan apa yang sedang diderita oleh suamiku. Dia menyembunyikannya entah dengan alasan apa, mungkin dia takut aku kecewa mengetahui kenyataan tentang penyakitnya.
Tiga hari sebelum operasi atas penyakitnya dilakukan aku merasa begitu sangat dekat sekali dengan Bimo, entah kenapa. Aku merasa sangat bersalah tidak pernah memberinya perhatian ekstra dalam menghadapi penderitaannya, ini karena ketidaktahuanku atau karena kebodohanku?
“Jeng, aku tahu jauh dilubuk hati kamu yang paling dalam kamu masih menyisakan sedikit cinta untukku.” aku tersentak mendengar kalimat yang diucapkan Bimo barusan, apa maksudnya?
Aku segera menyadari kalimat yang baru saja dilontar oleh Bimo. Jangan-jangan dia sudah mengetahui semuanya. Firasatku mengatakan demikian bahwa dia sudah mengetahui perihal aku dengan Damar.
“Kenapa kamu berkata demikian?” aku mencoba menyelidik
“Tidak tahu, dua tahun terakhir ini aku merasa sangat jauh denganmu. Ada sebongkah perasaan takut untuk kehilangan kamu. Selama ini aku tidak bisa menjadi lelaki sejati dan suami yang baik buatmu, yang bisa membahagiakan kamu. Aku tidak bisa memberikan keturunan kepadamu, aku takut satu hal ini yang akan menjauhkan kamu dariku.”
“Sssttttt, jangan diteruskan.” aku menutup bibirnya dengan kedua jariku, aku tidak kuat mendengar kelanjutan kalimatnya. Hatiku semakin gundah dan air mata menetes semakin deras tanpa bisa kucegah.
“Mungkin firasat kamu benar, kamu hampir saja kehilangan, bukan aku secara fisik tapi hatiku. Memang selama dua tahun terakhir ini ada orang lain yang hadir dalam hidupku. Maafkan aku Bim, kalau saja aku bisa mengatasi perasaanku agar tidak tergoda lagi dengan kehadiran Damar, aku tidak akan berani mengambil risiko menyakiti perasaanmu. Tapi nyatanya aku tidak mampu mengatasinya Bim, aku tidak tahu ada apa dengan diriku. Hanya Tuhan yang tahu.”
“Jeng, kamu kenapa?” tanya Bimo menyadarkanku dari lamunan.
***
“Beginilah akhirnya” bisikku lirih. Dengan langkah lesu kuturuni anak tangga satu demi satu dengan dada dipenuhi perasaan kecewa dan penyesalan. Cakrawala mulai memerah meninggalkan siang yang keras menyambut malam yang penuh kelembutan. Bunga-bunga flamboyan berjatuhan diterpa sang bayu yang bertiup malas sore itu, betapa indah.
Dengan malas kususuri koridor gedung dan sesampainya di beranda aku duduk melepaskan lelah, mencoba memberi waktu istirahat untuk kakiku yang lelah setelah menuruni anak tangga gedung berlantai 4 itu. Untuk kesekian kalinya aku menatap cakrawala di ufuk barat, mentari telah lenyap di kaki langit menyisakan warna jingga kemerahan menutup siang membuka malam.
Ada perasaan sesal yang mendalam ketika aku sadari aku mempunyai seorang suami yang begitu legawa terhadap segala hal yang telah aku lakukan padanya, meskipun hal itu aku yakin sangat menyakiti perasaannya. Dosa besar aku menyia-yiakannya selama ini. Kini setelah dia tiada hanya penyesalan yang bisa aku ratapi, dia pergi untuk selamanya dengan membawa luka yang telah aku goreskan didalam hatinya.
“Maafkan aku Bim.” hanya kata itu yang mampu aku ucapkan untuk menyatakan penyesalanku setiap kali kupandangi pusaranya
Kalau saja aku menyadari sejak awal bahwa cinta Bimo kepadaku melebihi apapun di dunia, mungkin aku tidak akan pernah menempuh resiko untuk kehilangan cinta yang sesungguhnya. Sekarang Bimo pergi untuk selamanya dan aku hanya bisa menyesali. Dia pergi tidak dalam bahagia, dia pergi bersama kepedihan, dan akulah yang menyebabkan kepedihan itu.
“Wur, bagaimana?” desak Damar
“Aku rasa sebaiknya kita akhiri saja semua ini, Mar.”
“Tapi kenapa?”
“Aku merasa bahwa cintaku sudah benar-benar mati, pergi berlalu bersamaan dengan kepergian Bimo.”
Aku tidak bisa berhenti menyalahkan diriku sendiri. Aku yakin bahwa yang aku rasakan kali ini adalah cinta. Yah, aku telah jatuh cinta dengan Bimo tepat di akhir masa hayatnya.
—————oOo—————-

mbak, ini fiksi apa nyata sih?
sedih skali bacanya
Comment by Ash! ō 16 December, 2005 @
kenapa yah tokoh Wuri mirip banget ama aku…pgn banget punya temen curhat karena aku lagi benar2 buntu seandainya ini bener2 kisah nyata mau dong ngobrol banyak ama mbak huff…aku bener2 bingung Damarnya aku Bimonya aku dan aku…
Comment by Renee ō 12 August, 2008 @