Namanya Suhartoyo. Lelaki yang telah berusia kepala enam itu bukanlah sosok idola dambaan muda mudi apalagi di jaman sekarang, tapi ada keistimewaan yang tersembunyi jauh dibalik wajah dan penampilannya yang sangat sederhana bahkan mungkin jauh dari “sempurna”.
Suhartoyo hanyalah penjual sapu keliling, bukan pake gerobak tetapi hanya dipanggulnya saja karena tidaklah seberapa sapu yang diperdagangkannya.
Suhartoyo, sulung dari tiga bersaudara, tinggal di pinggiran kota Surabaya. Dia dan kedua adiknya terlahir dengan cacat pada salah satu bagian tubuhnya. Suhartoyo sendiri buta pada kedua matanya, diceritakan bahwa orangtuanya bahkan membawa mereka ke “orang pintar” untuk menyembuhkan kecacatannya dan juga adik2nya tapi tidak pernah berhasil, pada usia 25 tahun saking stressnya dengan keadaan bahkan Suhartoyo sempat berusaha bunuh diri dengan menyusuri rel kereta api, beruntung masih ada orang yang menyelamatkannya. Kemudian dia bertemu dengan seorang janda beranak satu, dan akhirnya menikah hingga hari ini.
Yang saya takjub dengan sosok bernama Suhartoyo ini adalah kegigihannya!!, sejak menikah dia mempunyai tanggung jawab yang besar terhadap istri dan anak ‘tiri’. Dengan segala keterbatasan yang dia punya, dia masih mampu membiaya hidup istri dan anak bahkan masih bisa menyisakan sebagian penghasilannya untuk menghidupi orang tuanya. Dia tidak tinggal dirumah yang layak, karena sepengelihatanku rumahnya mungkin hanya berukuran 3x3 meter, sebuah rumah petak berdindingkan “gedek”, di dalamnya terbentang sebuah kasur lusuh dan semua perabotan jadi satu *tak terbayangkan kalau kalian juga aku tinggal di “gubug”itu
*. Untuk menambah penghasilannya dia menawarkan jasa pijat kepada masyarakat, keahliannya ini didapat saat seorang sepupunya menawarkan Suhartoyo sekolah khusus untuk orang2 buta, juga sapu2 yg dijualnya adalah hasil prakarya teman2nya di panti itu, Suhartoyo hanya membantu menjualkannya saja.
Setiap pagi dia diantar istrinya sampai di ujung jalan untuk kemudian bermelangkah sendiri dibantu sebuah tongkat “jelek” yang menemani perjalanannya menyusuri jalanan mencari pembeli. Tak jarang hari itu tak satupun ada yang membeli sapunya, tapi itu tidak membuatnya jera. Yang membuatku trenyuh, ketika dia berjalan dikeramaian orang2 seakan tidak perduli bahkan ketika dia terperosok ke sebuah selokan, bahkan tidak sedikit yang malah menertawakannya bukan menolongnya *pengen nonjok tuh yg ngetawain, sebel deh!!* tapi bapak yang satu ini tetap tegar, tanpa meminta iba dia bangkit dan berjalan lagi menjajakan sapunya
*hanya pengen cerita apa yg abis gw lihat disebuah tayangan realita kehidupan di sebuah stasiun televisi pagi itu saat gak masuk kerja*
