Aku masih mencoba-coba untuk mengerti kekhawatiran yang selalu bunda tampakkan dalam kalimat-kalimatnya beberapa bulan terakhir ini.
“Nduk, kamu yakin?” begitu katanya suatu malam, saat aku sedang berbenah diri untuk persiapan pernikahan adikku besok pagi. Aku hanya tersenyum sambil terus membenahi dandananku. Aku memang tidak pandai berdandan, makanya aku perlu berlatih dulu malam ini agar besok terlihat lebih “segar” dihadapan para undangan.
“Nduk!”
“Bunda, kenapa bunda masih saja menanyakan hal itu. Antik benar-benar tidak keberatan bunda.” aku yakinkan bunda sekali lagi sambil sesekali bercermin membenahi polesan bibirku yang terlihat begitu tebal dengan gincu warna merah terang ini.
Aku sadar bunda sangat mengkhawatirkan aku, apalagi ini perhelatan pernikahan yang ke tiga kalinya dalam keluargaku. Yah, aku adalah sulung dari lima bersaudara dan tiga dari keempat adikku sudah menikah, yang kesemuanya perempuan. Tinggal Andi, adikku yang paling bungsu yang saat ini masih melanjutkan studynya si sebuah sekolah menengah atas di ibukota. Dua bulan yang lalu tanpa sengaja aku melihat (baca selengkapnya)
Gila!! Bagaimana tidak, aku adalah perempuan yang telah bersuami tapi jauh dilubuk hati, aku mencintai lelaki lain. Sebenarnya lelaki ini sudah tidak asing lagi buatku, dia adalah lelaki yang pernah mengisi jeda-jeda kosong di masa laluku. Mungkin wajar saja kalau kita masih mempunyai perasaan sayang bahkan mungkin cinta pada seseorang yang pernah menjadi sosok istimewa di hati kita, tapi semuanya menjadi tidak wajar ketika perasaan itu bersemi lagi dan membuahkan sebuah permasalahan baru dalam hidup, terutama kehidupan rumah tanggaku.
“Wuri, apa kamu sadar dengan yang kamu lakukan saat ini.” begitu sahabatku Intan selalu mengingatkan aku akan keadaan yang saat ini sedang aku lakoni.
“Gue sadar betul In, tapi gue nggak mampu menghindarinya.”
“Tapi Wur, kamu sudah bersuami dan aku pikir Bimo adalah seorang suami yang cukup baik buat kamu. Apalagi yang kamu cari?”
“Gue tahu, dan gue sadar akan hal itu In. Bimo memang seorang suami yang baik, dia sayang sama gue, dia juga care banget sama gue. Gue sendiri nggak tahu apa yang salah sama diri gue In!”
“Yang salah adalah kamu mencintai lelaki lain sementara kamu adalah perempuan yang telah bersuami dan itu sebuah kesalahan besar, that’s all!” gertak Intan sambil meninggalkanku dengan sejumlah pertanyaan yang masih memenuhi rongga otakku. (baca selengkapnya)
